Tampilkan postingan dengan label Eira Prameswari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eira Prameswari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2010

BEJANA Merayakan Hari Perempuan Internasional dengan "Bunga Estafet" (8 Maret 2010)




Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional yang ke-100, BEJANA memperingatinya melalui "Aksi Bunga Estafet". Bunga berwarna ungu dipilih sesuai dengan warna ungu yang disepakati sebagai warna perempuan internasional. Memang tidak terlalu banyak bunga yang BEJANA sebar waktu itu; hanya 12 batangdan disebar dengan cara 'estafet' (diteruskan oleh penerima bunga ke perempuan berikutnya yang Ia temui). Pada setiap batang yang dibagikan diberikan note mengenai peringatan Hari Perempuan dan pesan agar memberikan kepada Perempuan berikutnya yang ditemui, lalu mengucapkan, "Selamat Hari Perempuan". Hal ini dimaksudkan untuk saling mengingatkan momen Hari Perempuan itu sendiri karena tidak semua orang mengetahui bahwa hari Perempuan Internasional diperingati pada tanggal 8 Maret 2010 kemarin. Selain itu para Perempuan yang saling bertemu tersebut dapat saling menyapa dan saling membagi senyum. Sapaan dan ucapan selamat ini ternyata kami rasakan dapat memberikan semangat secara personal bagi sahabat-sahabat Perempuan yang BEJANA kenal maupun secara kebetulan bertemu di jalan.




BEJANA dan Sahabat-sahabat BEJANA mempersiapkan bunga estafet sebelum dibagikan
(Karina Sita Dewi, Riany Setyandriani, Dorothea Diba, Eira Prameswari) :




Bunga estafet dibagikan untuk sahabat-sahabat Perempuan di lingkungan FISIP - Universitas Atma Jaya Yogyakarta



BEJANA membagikan kepada Ibu Kristin , salah satu pegawai TU FISIP - UAJY, lalu diteruskan lagi ke sahabat-sahabat Perempuan yang lain



Ibu Ninik Sri Rejeki terkejut dan senang ketika BEJANA masuk ke ruangannya untuk memberikan bunga estafet. Kami saling memberikan selamat dan mendapat ciuman hangat dari beliau



BEJANA membagikan kepada Sahabat Perempuan yang ditemui di jalan




Seorang Ibu yang sedang membeli otak-otak (foto: memakai helem) senang mendapat bunga estafet dan akan memberikan bunga tersebut kepada anak Perempuannya



Sahabat-sahabat Perempuan yang sedang menunggu TRANS Jogja di shelter mendapatkan bunga estafet juga



Shelter TRANS Jogja dipilih karena memungkinkan persebaran bunga estafet dengan rute yang lebih luas



Semoga hal sederhana sebagai cara BEJANA memperingati Hari Perempuan Internasional dapat memberikan efek yang hangat dan melekat untuk mengingatkan kepada Sahabat-sahabat bahwa Perempuan memiliki harinya untuk diperingati dan dirayakan bersama.

Pertanyaan untuk kemudian kita pikirkan bersama adalah; apa sesungguhnya yang kita rayakan - sebagai perempuan?

Senin, 01 Maret 2010

Bunga Matahari

“Sekar, itu Mama beliin makan malam ayam bakar di meja, ya…”.

“Aku gak makan ya, Ma. Mau tidur aja. Rasanya kayak masuk angin, ni…”.

“Kamu akhir-akhir ini pulang malem terus, deh. Pasti nyampe rumah hampir jam sembilan gini. Oh iya, besok ngambil rapor jam sepuluh, ya?”

Tidak ada jawaban dari Sekar. Hanya suara tivi dan suara Sekar yang muntah dari kamar mandi disusul suara pintu kamar mandi yang dibuka Mama. Sekar berhenti muntah, lalu melihat kaget Mama dari cermin wastafel.

“Kalau masuk angin, makan dulu sana, baru tidur. Atau kalau lagi gak selera makan, minum teh serai Mama di meja. Masih hangat”.

Mama lalu lari menghampiri telpon yang sudah berdering tiga kali. Dari Tante Nita, teman akrab Mama. Satu tarikan napas panjang dari Sekar. Lega rasanya. Bukan hanya karena sudah muntah, tapi karena tadi Mamanya tidak tanya ini – itu, tidak sempat lihat ada darah yang Sekar muntahkan. Ya, jelas saja muntah darah. Hampir seminggu penuh minum-minum terus. Padahal tidak ada yang sedang dirayakan. Hanya pada waktu itu merayakan datangnya hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis. Dan barusan ini merayakan hari Jum’at.

Mama masih asyik ngobrol di telpon sambil cekikikan. Sepertinya sedang merencanakan sesuatu yang asyik. Sekar minum seteguk teh serai Mama lalu lekas-lekas masuk kamar, putar radio, tarik selimut, lalu coba pejamkan mata merahnya itu. Tapi masih susah tidur, memikirkan terus pengalaman pertama muntah darahnya. Maklum, baru jadi peminum pemula yang sedang rajin berlatih. Bergidik juga jadinya Sekar. Jadi bertanya terus dalam hati, kenapa bisa begitu, ya ? Pikirannya pun terus melayang sambil matanya mengatup perlahan.

Hampir jam 3 pagi. Suara Tante Nita di luar buat Sekar terbangun.

“Gila ! Dah lama banget gak gila-gilaan gini! Kamu merhatiin tingkah cowok yang baju ijo tadi? Pasti dia gak nyangka banget kalo anak kita lagi pada tidur nyenyak di rumah”.

Tidak ada jawaban dari Mama. Hanya suara keran wastafel yang dibuka, mengguyur muntahan Mama, tidak jauh beda seperti Sekar tadi. Mama nyanyi-nyanyi gak jelas. Sekar hanya menguping sambil masih ngantuk. Ternyata Mamanya habis pulang dugem, minum sampai mabuk.


* * *

Sabtu siang rumah sepi. Hanya ada Mama yang merokok diam-diam di kamar mandi. Masih terus memandangi rapor Sekar yang banyak merahnya. Mama berpikir, jangan-jangan tinta hitam gurunya Sekar habis, jadi pakai tinta merah dulu? Atau jangan-jangan memang sekarang memang memakai tinta merah untuk mengisi nilai rapor? Mama sudah kehabisan imajinasi untuk mengelabui perasaannya sendiri. Mama ganti baju, lalu mengeluarkan VW Convertiblenya. Ingin ke pantai rasanya. Sendirian mungkin asik juga. Baru beberapa meter dari rumah, VW direm. Mama panggil Sekar yang sedang merokok sendiri di warung burjo. Kontan Sekar kaget dan membuang rokoknya. Sekar disuruh naik ke mobil. Saking gugupnya, Sekar naik sampai lupa bayar. Sepanjang perjalanan mereka banyak diam. Hanya Jammie Cullum yang All at Sea diputar, mengatakan sedikit isi hati Mama.

Sekar memulai pembicaraan dengan kaku dan gugupnya masih belum juga surut. “Aku emang tadi ngerokok, Ma. Tapi cuman sebatang, kok. Nilaiku juga banyak merahnya. Aku tau aku kebanyakan main. Mama berhak nge…..”, kalimat Sekar karena tiba-tiba juga Mama banting setir ke kiri sambil ngerem mendadak.

“Gak, papa kok. Sekarang kita buang sumpek ajah ke pantai”, Mama mengeluarkan rokoknya lalu disulut.

“Ambil aja. Rokokmu juga sama, kan?”

Sekar masih tegang, gugup, ditambah kaget dan bingung mau bilang apalagi. Mama memandang Sekar, memberi isyarat untuk mengambil rokoknya. Sekar ambil satu batang. Tidak disulut. Hanya diputar-putar di jarinya sampai tiba di pantai.

Mereka hanya banyak diam. Berjalan perlahan menuju batu karang yang besar sambil melelehkan kepenatan, kesumpekan, lalu di bawa ombak yang datang dan dibuang jauh ke tengah lautan sana. Batu karang besar itu favorit Papa dan Mama. Mereka duduk memandangi laut. Merokok. Tidak ada lagi yang sembunyi-sembunyi.

“Mama ngerti perasaan kamu. Kenapa nilai rapor banyak merahnya. Kenapa kamu sering pulang malam. Kenapa kemarin kamu sampai muntah-muntah begitu”.

Sekar hanya bisa diam. Padahal dia juga ingin sekali tanya, kenapa semalam Mama minum sampai mabuk begitu. Tapi Sekar hanya tetap diam. Merokok lagi bersama Mama dan suara ombak. Mereka berbicara tanpa saling menatap

“Sore ini kita ngobrol sebagai teman saja, ya. Mama juga pengen berbagi sama kamu. Sebenarnya kita sama-sama merasa kesepian. Walaupun Mama punya kamu. Kamu punya Mama. Tapi tetap saja, kita sama-sama kangen kehangatan Papa”, Mama berhenti sejenak, menyalakan rokoknya lagi.

“Tapi kita juga emang harus nyoba ngertiin. Selain kita, Papa juga punya Tante Mirta, Tante Lina, Danu, Satrio, Mega, yang masih bayi. Memang kita sekarang lagi dalam keadaan yang kurang menyenangkan, ga kita harapkan. Tapi kita harus berjuang dalam keadaan ini , bertahan untuk terus maju. Bukan berteriak menyalahkan keadaan. Berteriak mencaci sampai puas. Padahal tidak akan ada puasnya. Mama pengen bisa mencukupi figur Papa juga untuk kamu. Dan Mama terus mencoba untuk itu. Mama minta pengertian kamu ya?”

Mereka kembali diam. Matahari sudah mulai turun untuk tenggelam.

“Ma, namaku Sekar. Artinya bunga. Aku Bunga Puteri Malu yang berwarna ungu. Tiap hari hanya berwarna ungu. Lalu Bunga Puteri Malu selalu memandangi Matahari, mengaguminya. Matahari begitu hebat dan Si Bunga Puteri malu merasakan dia begitu kuat. Benar-benar kagum Si Bunga Puteri Malu itu, sampai-sampai dia berubah bentuk perlahan, hingga menjadi berbentuk hampir menyerupai matahari. Lalu disebutlah ia Bunga Matahari. Dan Matahari itu adalah Mama”.

Mama tersenyum dalam haru. Di pantai itu ada mereka bertiga sekarang. Matahari yang sedang turun untuk terbenam, Mama sang Mataharinya Sekar, dan Sekar - Si Bunga Matahari. Sekar duduk mendekat Mama, memeluk lengan Mama dan menikmati hangatnya ketiak Mama. Mama membuang rokoknya yang masih panjang. Mereka berdua hanya diam menikmati kedalaman rasa dan makna dari perjalanan hari-hari mereka selama ini.



~EiRa~

Sights by Us

"UNTITLED"
KrisanPutih (Dorothea Diba), 2010
Pastel & pen on paper




"LIFE"
KrisanPutih (Dorothea Diba), 2010
Pastel, pencil & pen on paper





"UNTITLED"
KrisanPutih (Dorothea Diba), 2010
based on a photograph (of Riany Setyandriani & Sesilia Pramudita) with the same title by Dorothea Diba
Pencil on paper




"AKU"
KrisanPutih (Dorothea Diba), 2007
Oil on canvas




"APA ITU"
~Eira Prameswari~, 2010
Color pencil on paper





"KEBIASAAN"
~Eira Prameswari~, 2010
Pen & color pencil on paper





"THE QUESTION ABOUT US"
~Eira Prameswari~, 2006
Poster paint, sticker, hand of clock on ivory paper

Some Pictures from Bejana

These are some pictures from Bejana, taken and edited by Eira Prameswari

DEVIL'S SIGHT



ENDAS TERI




YULIET LAN YULIET




RABBITO




WAVY-MINDED
(talent : Agatta Stevia)



SUNSET BETWEEN US

Rabu, 10 Februari 2010

Some Pictures from Bejana

These are some pictures of children, taken and edited by Eira Prameswari



-NYORE-





-REFLEKSI-

Kekerasan dalam Hubungan Lesbian

Sewaktu kuliah semester 2 tahun 2006, saya mulai terbuka mengenai identitas dan orientasi seks saya sebagai lesbian. Mulailah saya bergabung dengan teman-teman lesbian lainnya. Dari situ saya mengenal adanya label butch, femme dan androgini. Yang saya amati, seorang butch akan berperan dan berpenampilan mengidentifikasi seperti laki-laki. Untuk femme, peran dan penampilannya seperti perempuan layaknya pasangan heteroseks lainnya. Androgini memiliki penampilan seperti perempuan tomboy. Hanya tomboy. Yang membingungkan, waktu itu sempat mendengar ada teman bertanya, “Kamu andro ke femme atau ke butch ?” Ternyata masih dibagi lagi istilah peran untuk label sepemahaman teman-teman waktu itu.

Label yang sebagai indentitas ini awalnya (yang saya tahu) hanya untuk pengkategorian saja supaya tidak keliru persepsi terhadap identitas yang disandang oleh teman-teman lesbian. Label terkadang diberikan oleh diri sendiri atau bisa juga diberikan oleh teman-teman yang lain. Pernah waktu ditanya seorang teman, “Lu tu, A, B apa F?” Saya menjawab tidak tahu waktu itu. Akhirnya mereka menempelkan label butch untuk saya. “Kalo dari bentukannya, Lu tu B deh”. Okay, akhirnya saya adalah butch sesuai apa kata teman-teman saya. Dari label yang sudah saya sandang, berarti selayaknya saya harus melengkapi label butch saya tersebut seperti kebanyakan butch lain mulai dari penampilan, pembawaan, sampai ke pemikiran. Tapi saya juga memasak, me-repotting tanaman di rumah, membersihkan rumah, terkadang bersolek seperti perempuan lain (walau tidak begitu feminine), dan tanggapan yang saya dapat adalah : “Lu feminin banget ya sebenernya”, “Lu tu bukan butch tapi bencong”. Semua memang disampaikan dengan bercanda, tapi dapat terlihat konstruksi pikiran seperti apa yang sedang terbangun. Pernah juga saya ngambek oleh hal yang dianggap sepele seorang teman butch (sepertinya tidak layak dipermasalahkan oleh sorang butch).Tanggapan yang muncul adalah, “Lu cewek banget sih. Gitu aja marah”. Hey, come on, ucapan dari pikiran yang sangat merendahkan sekali. Saya memang perempuan dan yang berucap tadi itu juga sejatinya sedang berkelamin perempuan. Dimana kelirunya seorang butch yang melakukan hal-hal yang saya lakukan tadi? Apa itu melanggar aturan dari label tersebut? Siapa yang membuatnya? Teman-teman lelaki heteroseks yang saya kenal juga bisa memasak, me-repotting tanaman, membersihkan rumah, dan bisa ngambek. Semua itu boleh dan tidak ada yang melarang. Hanya pikiran-pikiran yang terkonstruksi dengan peran sosial dari pilihan label dari itu sendiri yang membatasinya. Mulai dari itu saya semakin tidak nyaman dengan label yang saya sandang. Akhirnya ketika ditanya saya selalu menjawab, “Saya perempuan yang menyukai perempuan juga. Ga pake label-labelan”. Dari awal memang saya tidak nyaman, hanya mengikuti pemikiran di antara teman-teman saja. Setelah pilihan akhir saya tadi, saya menjadi lebih lega dan leluasa.


Sampai hari ini saya terus menjalani pilihan hidup saya sebagai lesbian. Sesuai pesan dari seorang teman agar saya selalu menghargai orang lain agar saya juga dihargai. Termasuk menghargai diri saya terlebih dahulu dengan tidak mengekslusifkan diri sebagai lesbian. Ketika saya minta untuk dihargai dan disetarakan dengan teman-teman heteroseks, saya berpikir untuk duduk sama rata sebagai manusia saja. Karena saya pikir pemberian dan penggunaan label dalam relasi cinta lesbian malah justru mengkotak-kotakkan dan membatasi dalam banyak hal. Belum lagi identitas tersebut sepertinya harus dipatuhi. Bila tidak, bisa-bisa mendapat sanksi celotehan seperti yang saya alami tadi. Sugesti yang mengungkung. Menurut saya sebetulnya tidak ada yang salah dengan pemilihan identifikasi tersebut. Yang saya lihat semua itu adalah panggilan dari dalam jiwa yang lalu dipenuhi oleh raga. Untuk pengkategorian juga bisa. Setiap orang dalam hubungan sosial membutuhkan identitas agar orang lain tidak salah memperlakukan individu tersebut. Tapi pembedaan tersebut bukan untuk dibeda-bedakan atau bahkan didiskriminasi. Perempuan dalam lingkup heteroseks saja terus berjuang untuk emansipasi selama ini. Hal ini terjadi karena adanya konstruksi yang melenceng dari sistem patriarki. Penggunaan wewenang atas identitas laki-laki yang menjadi menurunkan derajat dan hak perempuan karena laki-laki dikonstruksi selalu berada di atas perempuan dalam banyak hal. Hal tersebut cenderung menjadi bentuk kekerasan psikis bahkan fisik. Saya pikir kekerasan-kekerasan tersebut hanya terjadi di dalam relasi heteroseks saja. Tapi saya pernah melihat hal tersebut terjadi dalam relasi lesbian. Mengagetkan dan geram.

Kejadian yang pernah saya tahu ini kebetulan relasi antara butch dan femme. Mereka tinggal serumah layaknya laki-laki dan perempuan berumah tangga. Peran yang ada di dalam situ layaknya suami dan istri. Si suami bekerja si istri lebih banyak mengurusi urusan rumah. Butch lebih memegang kendali dalam banyak keputusan dan ujung-ujungnya menjadi posesif terhadap femme karena merasa butch (sebut saja Rere) adalah kepala keluarga dan femme sudah selayaknya nurut. Kekerasan psikis yang dialami femme (sebut saja Nana) diikuti dengan kekerasan fisik karena Nana tidak menuruti aturan-aturan Rere. Rere mulai memukul, menampar, bahkan pernah melakukan hal-hal lebih dari itu yang bisa membuat nyawa Nana melayang begitu saja bila diteruskan. Nana dengan segenap cintanya terus bertahan dan Rere justru semakin menjadi mengulang hal tersebut. Ternyata masa lalu dibalik perilaku Rere tersebut, Rere pernah mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya sewaktu kecil sehingga ketika sudah besar Rere beranggapan (dalam alam bawah sadarnya) memukul adalah hal yang lumrah dilakukan ketika marah. Walau di alam sadar Rere tahu itu merupakan hal yang salah tapi mencoba menari pembenaran bahwa Rere memiliki trauma tersebut. Melihat masa lalu Nana, ternyata dia memilih menjalin hubungan dengan perempuan karena memiliki trauma yang menyebabkan dirinya tidak lagi percaya dengan laki-laki. Salah satu alasannya adalah masalah kekerasan psikis dan fisik. Nana mengharapkan pilihannya kali ini dapat memberikan ketenangan lebih karena mencari sosok yang lebih lembut dan lebih mengerti dari sosok laki-laki yang pernah dia temui. Tapi apa yang dia dapat di sini? Seperti memutar kembali film kelam masa lalunya saja. Tidak ada kemajuan yang signifikan dalam kisah Rere dan Nana. Si butch menyakiti, si femme tidak melakukan perlawanan yang bisa lebih memerdekakan dirinya karena pola pikir yang melekat dari konstruksi label yang dianut tersebut. Walau mereka tahu semua itu hal yang salah.

Betapa mirisnya saya melihat mereka waktu itu. Kalaulah mereka berangkat dari trauma untuk memilih menjadi lesbian, jangan sampai hal tersebut diulang lagi. Sama saja menurunkan sistem patriarki (apakah istilah ini tepat digunakan di sini?) yang justru jadi mendiskriminasi perempuan (lagi).





*Picture drawn by: KrisanPutih (Dorothea Diba), 2010
"UNTITLED"
Pastel on Paper

Some Pictures from Bejana

These are some pictures of people activities, taken and edited by Eira Prameswari


-PULAS-





-MANCING-

Selasa, 09 Februari 2010

SELA


Sela...

Terakhir aku melihatmu, dengan janggal kau sandarkan bahu kananmu ke tembok bata itu. Dengan kepala menengadah seakan-akan hampir patah, dengan jumputan-jumputan rambut kusut terurai aneh menutupi lehermu - basah oleh keringat, lembab oleh air mata. Sudah tak mungkin aku menertawakan kepalamu yang setengah botak dan mata kiri yang tak pernah bisa membuka lagi; aku hanya tertegun karena saat itu - tangan kirimu menggenggam sebatang mawar. Mawar merah ranum masih kuncup malu-malu. Kalian berdua - kau dan mawar itu - bersandar di tembok bata - di bawah derasnya hujan.

Sela...
Terakhir aku melihatmu - sebagaimana selalu selama lima tahun sebelumnya, kau berdiri diam-diam hampir tak kenal waktu. Satu bungkus rokok kuhabiskan memandangimu, kuselingi kopi dalam kemasan atau kacang kulit seplastik hitam. Kau abaikan teriakan melengking anak-anak kecil yang datang dan pergi, seakan cemooh sekejam apapun tak kan sanggup membuatmu menoleh dan menggertak. Di tembok bata yang sama, dengan posisi serupa, kau menatap jauh menembus birunya langit, menantang matahari yang membakar kulit keriput lusuhmu. Dan kalaulah hujan turun, kau hanya akan menyeka dahimu sesekali, meringis menautkan kedua alismu, lalu kembali menatap langit.

Sela...
Tak pernah ada jeda dalam hari-harimu, sekedar mengais makanan atau berjongkok melemaskan kedua kakimu. "Orang gila! Orang gila!", kata mereka - dan kau tak bergeming. Satu dua batu mengenai tubuhmu, kau bahkan tak melirik. Dan terakhir aku melihatmu, dengan mawar merah ranum itu, Bapak-Bapak penghuni kampung yang biasa berjudi di warung sudut ikut datang menontonmu - diam termangu memandang mawar dalam genggamanmu. Saat itu tepat lima belas menit sebelum detik ini, saat kami semua menjerit tertahan. Kotak beroda empat menyambarmu dan berlari kencang menderu-deru, meninggalkan tubuhmu terbaring di tepi tembok bata. Aku tak tau apakah itu warna asli gaun lusuhmu yang terlihat lebih merah - merah ranum menyerupai mawar yang masih kau genggam. Basah tubuhmu lebih lekat dan pekat, namun tak membuatmu terlihat tak berdaya. Kau bahkan tersenyum - untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihatmu tersenyum. Dan saat orang-orang berbelas kasih beranjak menutupi tubuhmu dengan lembaran-lembaran koran, aku tersadar, mungkin inilah yang kau tunggu. Panggilan Yang Kuasa untuk meninggalkan hidupmu; bersandar pada tembok bata dan hidup dalam duniamu sendiri, bergerak diam-diam bersama anganmu, tertawa dan menangis dalam dinginnya parasmu. Mawar itu pastilah hadiah entah dari siapa, tanda perginya kau ke tempat yang disebut akhirat, tempatmu bahagia abadi tanpa harus terluka lagi.

Sela...
Pergilah. Tinggalkan dunia yang kejam ini, hiduplah dengan tenang. Beristirahatlah, Sela.

.Dorothea Diba.
.2009.

*Details on the picture;
"SCHIZOPRENIA"
>based on a photograph with the same title by ~EiRa Prameswari~
drawn by KrisanPutih (Dorothea Diba), 2010
Pencil on Paper

Sights by Us

"PRETENDED MAGMA"
~EiRa Prameswari~
Pastel on Paper



"SPRINKLESS"
~Eira Prameswari~
Pastel on Paper



"KOTAK"
~Eira Prameswari~
Pastel on Paper



"FLOWER GIRL"
KrisanPutih (Dorothea Diba), 2008
Oil on Canvas
*Used as a cover for one of the four pocket book series on Women Issues in North Sumatra

Senin, 08 Februari 2010

Dimana Anakku

Dimana anakku?
Dimana anakku?
Dimana anakku?
Dimana buah hatiku?

Aku mencarinya sepanjang malam ini. Di rumah tetangga, di tempat katanya dia biasa bermain pasir, di ayunan sekolah, di atas pohon arbei yang suka sekali dia panjat. Tidak ada. Gelisah.

Dimana anakku?
Dimana anakku?
Dimana anakku?
Dimana belahan jiwaku?

Kucari sekali lagi di dalam kotak susu vanila madu kesukaannya, di kolong tempat tidur, di keranjang berisi tumpukan mobil-mobilan, di setiap halaman buku penuh gambar laut dan Sponge Bob kesayangannya. Tak juga ketemu. Bingung. Limbung.

Jemari kiriku meremas lengan kanan. “Tenang”, kataku pada diriku, tapi kernyit dahi terus bertanya, “Di mana dia? Sudah semalaman aku masih belum menemukannya?” Perutku sudah mulai tidak terima, “Kemana anakku? Seharusnya dia ada waktu aku pulang kerja”, mulas. Kepalaku tiba-tiba gatal. Kugaruk sekali, dua kali, hingga berkali-kali. Rambutku mulai awut-awutan. Kuambil segelas air putih lalu kuteguk sampai tak bersisa. Namun pertanyaanku masih tersisa begitu banyak dan kerongkonganku ini tak berhenti kering. Kakiku berjalan gontai menuju kamar. Kubuka pintu. Panel pintu mengembun tersentuh tanganku yang mendingin. Kututup pintu, lalu kaki yang tak kuat menumpu tubuh lemasku ini ambruk tepat di belakang pintu.

Aku tak tahu.
Aku tak tahu.
Aku tak tahu lagi.

Tapi aku harus tahu di mana anakku. Dia darah dagingku, tapi kini aku tetap tak tahu. Anakku……..

Pandangan mata kulempar kesana kemari, ke semua sudut, tak beraturan. Napas tertahan di hati sesakku sampai lupa kuhembuskan beberapa saat. Jantung ini mulai lemas, malas berdetak karena jengah pada setiap pikiranku yang hanya terus menerus bertanya dan tak kunjung menemukan jawabannya.

Kupejamkan mata lalu berdoa. Kutata ulang lagi setiap hembusan napasku. Aku harus lebih tenang. Limbung tidak akan menemukannya. “Ayo Eka, kali ini pasti bisa menemukannya. Ikuti naluri keibuanmu”, mataku terbuka perlahan, cahaya lampu kamar terasa lebih terang daripada tadi. Gerak tangaku mulai mengikuti naluri. Kuambil telpon genggam dari saku celana jeans. Berat sekali rasanya harus menelpon sebuah nama di buku telpon ini. Utomo, tapi kali ini aku sudah tidak ingin membuang waktu lagi. Dua kali dering nada sambung langsung disaut oleh suara lelaki yang terdengar berat dari seberang sana, “Ya? Kenapa, Ka?”, musik berdentum keras menyamarkan suaranya. Bibirku bergetar namun terus kuusahakan untuk berucap. “Adit lagi sama kamu ga, Mas?”. “Apa? Kenapa?”, dentuman-dentuman musik itu ternyata mengalahkan suaraku. Tarikan napas yang dalam kuambil lalu mengulang kalimatku dengan lebih jelas, “Adit lagi sama kamu ga, Mas Tom?”. Suara lantang dengan nada heran bercampur kesal menderu panjang persis di telingaku, “Hah? Aneh kamu. Emang sekarang aku lagi di mana? Ya ga mungkinlah! Kok bisa? Kemana dia malem-malem gini? Kamu pasti ga becus ngurusin anak. Kerjaan aja terus diurusin! Terus kemana anak itu malem-malem gini? Kalo ga bisa ngurus an……..”, semua dentuman, suara lantang, makian menjadi samar. Telpon genggam menggeletak di lantai parquet sambil kutatapi dengan kosong. Maki-makian yang lantang dan menusuk hati masih terdengar lirih tak mau berhenti. Aku sudah tak ingin mendengarnya lagi tapi masih tetap saja terdengar.

Aku tak berguna kini, hanya sekedar bernyawa saja. Sensasi rasa pahit dari kehilanganku ini mematikan semua indera, bahkan indera keenam keibuanku. Habis sudah daya. Aku masih tersandar dan bernapas di balik pintu kamar. Tak lagi bisa mengandalkan naluri. Mulai berimajinasi. Adit tertawa menggelendot di perut hangatku lalu melompat ke kasur. Didudukinya bantal berisi bulu angsa yang gembul itu. “Adit, ga boleh dudukin bantal ah, sayang. Pamali”, aku menggeleng sebagai isyarat tidak boleh, lengkap dengan kernyitan dahi. Adit malah sengaja memantulkan pantatnya di atas bantal sambil tertawa renyah. Halusinasi.

Segala lelah menidurkanku dengan mata terus terbuka, masih pada posisi yang sama.



***


Alarm jam berdering tepat pukul 4.55. Tuti terbangun kaget. Tangan kirinya meraih jam beker lalu dimatikan lekas-lekas. Dikejap-kejapkan mata merahnya untuk menyudahi kantuk. Perlahan tangan kanan ditarik sembari bangkit dari baringnya. Hati-hati sekali, karena semalaman Adit tidur bersembunyi di ketiaknya seperti banyak malam sebelumnya. Ditatapi sejenak paras bocah enam tahun itu, lembut. Jari berkulit tebalnya menyapu poni Adit. Senyuman tersungging tipis melihat si bocah masih tertidur pulas. Gairah paginya sekejap jadi bangkit begitu saja. Seperti biasa, Tuti keluar kamar, mematikan lampu depan, membuka gorden-gorden, berjalan menuju dapur. Dilihat tas Ibu sudah di atas kursi ruang tengah. Senyum terpulas lagi di wajah berminyaknya, membayangkan Ibu sedang tertidur tenang di kamar setelah seharian kecapaian. Ditemani ceret dan api kompor Tuti meramu secangkir teh celup, satu sendok madu, ditambah seujung sendok garam halus. Mug putih favorit Adit bergambar konyol Sinchan dan Mamanya diisi satu setengah sendok susu bubuk coklat dan satu sendok yang rasa stroberi.



Solo,
2-3 Januari 2010
O2:18

~Eira Prameswari~

Some Pictures from Bejana

These are some pictures of beauty, taken and edited by Eira Prameswari

-MENTARI MALAM-



-PRAMBANAN SENJA-





-LADY SUNSET-





-SHE & SHE-




*Exhibited in IDAHO 2008 (International Day Against Homophobia), at Jogja National Museum, Yogyakarta